KISAH MENJADI MURID NABI KHAIDIR
sejak saya berumur 8 tahun, ruh saya di ambil oleh nabi khaidir untuk di didik, karena di didik secara ruh, maka sering ruh saya keluar, dan jasad saya sendiri dalam keadaan pingsan, orang tua saya yang tak tau jelas panik, karena kadang tubuh saya hanya diam tak bergerak, dan mata ke atas, seperti orang kesurupan, mata itu ke atas karena mengikuti ruh saya keluar, bapak saya saat itu panik dan sering mencarikan air doa, agar saya sadar, tapi kadang dua hari tak sadar, karena mereka tak tau sampai bantal saya di beri tulisan rajah rajah, maksudnya agar saya tdk di ambil iblis, atau jin, saat itu karena di bawa secara tanpa kesadaran, karena di ambil begitu saja, saya juga tanpa persiapan, tapi anehnya saya ingat semua mengalami itu sampai sekarang, di ajak kemana saja, di ajar apa saja, saya ingat.
lalu saat remaja, saya masih di pesantren, saya mengamalkan mandi taubat setiap malam, entah berapa tahun, karena saya asal mengamalkan mandi taubat, terus setiap malam, lalu saya di datangi nabi khaidir saat itu, beliau memberikan tongkat, lalu tongkat itu di suruh saya simpan di dada, sejak saat itu saya bisa membaca kitab kuning, tanpa saya bepajar sebelumnya, dan saya mengajar di pesantren, anehnya apa saja yang saya ajarkan begitu saja mengalir dari mulut saya, tak terkendali, seperti ilmu yang tanpa ujung dan tepi, misal satu ayat, bisa saya jelaskan sampai seharian isi dan kandungannya.
di dunia ini jaman sekarang ini, mungkin hanya saya dan guru saya yang tau di mana nabi khaidir berada, karena memang beliau tidak bisa di lihat dengan kasat mata biasa.
karena saya tau tempat beliau berada, maka saya juga sering sowan ke tempat beliau untuk meminta nasehat dan arahan.
suatu x rasulullah saw yang mendampingiku bertanya.
" apa tidak main ke tempat gurumu?" tanya beliau.
" siapa ya rasulullah?" tanyaku, karena guruku banyak.
" siapa lagi kalau bukan nabi khaidir."
" apa panjenengan ingin ke sana?"
" ya kalau kyai mau, saya akan dampingi."
" biar saya cari waktu yang pas, setelah masalah saya selesai."
lalu setelah ada waktu saya berangkat ke tempat nabi khaidir, sebenarnya tempatnya banyak di kunjungi orang, tapi karena orang tak tau, maka tempat itu di anggap tempat biasa.
setelah menempuh perjalanan dari rumah sekitar 4 jam lebih, kami pun sampai, tempatnya masih sama, karena sudah biasa kami mencari parkir yang rindang, masih tempat parkir sama dengan saya datang sebelumnya, persis, saya turun dari mobil, ada malaikat menghadap, menyambut, membungkuk dan mengucap salam dan selamat datang.
" maaf kyai, nabi khaidir tadi berpesan, agar kyai nunggu beliau turun dari atas, beliau sedang ke langit sholat, nanti kalau turun, saya akan kabarkan."
" ya malaikat, tak papa, biar saya nyantai dan ngopi di warung sambil beli oleh oleh." jawabku.
saya segera ke warung, yang ada di dekat parkir, suasana lumayan sepi, hanya ada satu dua pengunjung saya segera pesan mie khas daerah itu. lalu makan sambil ngopi.
setelah habis makanan, malaikat datang lagi,
" maaf kyai, beliau nabi khaidir sudah datang, panjenengan di tunggu, di persilahkan menghadap."
" oh ya malaikat,"
saya segera membayar warung, dan beranjak ke tempat beliau.
karena harus jalan kaki, beliau sudah menunggu, setelah sampai saya segera sungkem,
walau secara lahiriyah, saya hanya jalan biasa saja, seperti tak terjadi apa apa, untuk menjauhi prasangka yang tidak tidak dari pengunjung tempat itu, ada beberapa pengunjung, ada yang sedang duduk pacaran, ada yang sedang selfi, saya jalan biasa saja sambil ngobrol.
" monggo kyai cari tempat duduk yang nyaman, sambil kita ngobrol santai, maaf kalau tempatnya ala kadarnya." kata beliau sambil berjalan berdampingan dengan saya, lalu kami mencari tempat duduk di rumput yang nyaman.
setelah duduk enak, kami pun mulai pembicaraan. saling bertanya kabar.
lalu saya bertanya ke hal hal keilmuan, dan beliau menjawab dengan sabar dan terperinci.
setelah ngobrol ke hal hal keilmuan, saya bertanya ke hal hal biasa.
" di jaman ini, ada berapa orang yang panjenengan didik jadi murid?" tanyaku dengan obrolan santai.
" tidak ada, hanya kyai dan gurunya kyai."
" saya sering mendengar banyak orang yang mengaku panjenengan didik, makanya saya bertanya, kebenaran itu, karena panjenengan kan yang menjalani, lebih tau."
" melihat saya itu kan tidak bisa orang biasa melihat, kalau Allah tak mengizinkan, ya tak akan bisa, orang suka mengakuaku, agar di ikuti orang, biarkan saja, sudah tak terhitung orang ingin jadi murid saya, tapi dari jaman dulu, saya tidak menerima murid, nabi musa saja saya tolak, yang seorang nabi, apalagi manusia biasa, murid saya hanya kyai dan guru kyai."
" saya heran, kan banyak sekali orang, kenapa panjenengan memilih saya jadi murid?"
" itu sudah takdir Allah, saya juga tidak sembarangan mengangkat murid, saya memilih kyai, ada banyak faktor, ya kyai lihat sendiri, di jaman sekarang ini, ulamak atau orang pintar yang menyelewengkan agama."
" ya"
" kyai ingat waktu kyai umur 8 tahun mulai saya didik?"
" Alhamdulillah ingat, dan terimakasih atas semua didikan panjenengan ke saya."
" lalu kyai masih ingat ketika kyai remaja, saya beri tongkat?"
" ya masih ingat sekali."
" apa masih di simpan tongkat dari saya?"
" Alhamdulillah masih" jawab saya sambil saya keluarkan tongkat dari beliau.
" itu tongkat, saya bawa sejak saya kecil, sampai saya serahkan ke kyai, tongkat itu nanti akan ada banyak manfaatnya, di simpan saja, semua keilmuan saya ada di tongkat itu, karena tongkat itu yang menyertai selama kehidupan saya, menjadi saksi ketika saya belajar segala ilmu yang saya pelajari, dulu tongkat itu mau saya kasihkan ke kyai apa ke guru kyai, kamu kan tau gurumu itu, semau maunya sendiri, tidak perduli, maka saya putuskan saya berikan ke kyai, di ajarkan keilmuan yang saya berikan, di sadarkan orang yang tersesat, diajak orang ke jalan kebenaran."
" insaAllah"
" semua keilmuan saya, sudah saya serahkan ke kyai, saya sudah tak ada keilmuan lagi untuk di wariskan ke kyai, di saya ilmu ilmu sudah tak ada."
" kok bisa, guru saya, juga mengatakan itu, beliau sudah menyerahkan semua keilmuan kepada saya, sampai ilmunya sudah tak ada lagi sisa, saya sendiri sering menyerahkan ilmu kepada murid murid saya, tapi kenapa ilmu saya masih ada, tak hilang?"
" ilmu itu cahaya, jadi tak mudah menerima ilmu, orang harus bersih dan suci hati dan batinnya baru cahaya ilmu itu bisa di serap semuanya, itulah kenapa saya menjadikan kyai jadi murid saya, karena hati dan pribadi yang bersih, suci dari kotoran keinginan, makanya ketika guru kyai dan saya itu memberikan ilmu, ilmu itu secara otomatis menyerap ke raga kyai, dan ilmu berpindah, sama kalau kyai memberikan ilmu, jika murid tak bersih hati dan suci bersih dari keinginan, maka ilmu tak akan menyerap, di kiranya bisa ini itu, padahal dari tipu daya iblis."
" sebenarnya sederhana ya untuk menyerap ilmu.?"
" ya sederhana bagi yang batiniahnya bersih, bersih dari apapun, termasuk dari keinginan ingin punya ilmu"
" iya juga ya."
" ya kan, kyai dari dulu, tak ingin apa apa, bahkan tak berkeinginan punya ilmu."
" ya saya juga heran, kok saya tak ingin apa apa ya dari dulu, bahkan ilmu saja tak ingin, tak ingin jadi pintar, bahkan sampai tak punya ijazah sekolah."
" nah itu tau, orang semua di penuhi keinginan, ini itu, jadi hijabnya itu dari segala macam keinginan keinginannya sendiri, yang menghalangi dia bisa menyerap ilmu, karena keinginan dia sendiri, yang menjadi pengahang terserapnya cahaya ilmu, ilmu itu umpama cahaya yang memantul ke kaca, kalau ada keinginan yang menutupi kaca, maka cahaya tak bisa menyerap ke dalam cermin kaca."
" maaf guru, sebenarnya panjenengan itu masih hidup secara jasad, atau bagaimana, kalau hidup secara jasad, lalu sekarang jasad panjenengan di mana, jika panjenengan mau menceritakan ke saya."
" saya sejak dulu sebenarnya tinggal di sini, apa yang di ceritakan dalam alqur'an itu benar, saya dulu sebagai penasehatnya raja dzulqornain, lalu meminum maul hayat, dan hidup lama, sebenarnya saya pernah meninggal dunia, dan di kuburkan."
" oo berarti pernah meninggal ya guru."
" ya, tapi ketika di kuburkan, saya malah menemukan jalan ke maul hayat, dan jasad saya akhirnya tinggal di situ sampai sekarang."
" secara lahiriyah, apa saya bisa ke situ guru?"
" tempat itu di tutup Allah, hanya secara ruhani saja bisa di kunjungi, itupun tidak ada orang yang bisa sampai ke situ, kecuali yang di kehendaki Allah, kyai kan sering ke tempat saya."
" ya tapi kan tidak secara jasad guru."
" wong secara ruh saja tdk ada yang bisa sampai ke situ, apalagi secara jasad."
" ayo kalau kyai mau mandi, saya temani."
" monggo..."
ruh saya keluar, tapi karena banyak ruh lain selain ruh asli dan ruh idhofi, tubuh saya tetap biasa saja.
terlihat kabut bergulung gulung menutupi bukit sampai bukit tempat maul hayat tak terlihat.
saya masih di tunggui malaikat pesuruhnya nabi khaidir.
lalu saya ajak ngobrol.
" kamu menemani nabi khaidir sejak kapan malaikat?" tanyaku.
" maaf kyai saya takut menceritakan." jawab malaikat.
" kan dengan saya sendiri malaikat, kamu tentu tau, antara saya dan beliau tak ada rahasia."
" kyai beruntung jadi murid beliau, banyak orang dari jaman dulu ingin jadi murid beliau, tapi tak ada yang di terima, kyai yang tak terlintas di pikiran sedikitpun jadi murid beliau, malah beliau mengangkat kyai jadi murid, saya mendampingi beliau sudah beribu ribu tahun, beliau itu orangnya sulit, tapi dengan kyai, apa saja beliau berikan, dulu beliau akrab dengan ratu bilkis, sebelum ratu bilkis jadi istri nabi sulaiman, nabi sulaiman juga di bimbing beliau, makanya jadi penguasa alam ghaib, sama dengan kyai, jadi penguasa alam ghaib, itu semua atas didikan beliau, nabi sulaiman dulu bisa mengambil semua harta dunia juga atas arahan beliau."
" ya saya juga pernah di beritahu soal itu oleh ratu bilkis."
" semua ilmu beliau sekarang ada di badan kyai, tinggal memakai saja, nunggu saatnya, kalau soal beruntung, tak ada yang seberuntung kyai, ada murid nabi khaidir selain kyai, yaitu gurunya kyai, dan saya lihat, semua keilmuan guru kyai semua sudah di serahkan ke kyai."
" padahal saya tdk menginginkan keilmuan malaikat."
" itulah makanya saya bilang beruntung, maaf kyai beliau dan ruh kyai sudah selesai mandi."
ruh saya lalu masuk lagi ke badan, serasa enteng, pegal pegal rasanya hilang semua.
" maaf kyai, saya ada tugas dari Allah, jadi saya tdk bisa menemani lama lama."
" baik guru, saya juga mau pamit."
lalu sebelum pergi, beliau memberi banyak nasehat, untuk kedepannya.