KISAH KETIKA AYAH SAYA DI AKHIRAT
saya masih dalam perjalanan pulang dari menengok ayah di rumah sakit bojonegoro, lalu saya di kabari kalau sayah saya sudah meninggal dunia, saya panggil malaikat pencatat amalnya, malaikat datang dan salam, lalu saya jawab salamnya, malaikat cerita kalau sebenarnya ayah saya belum saatnya meninggal, karena belum ada malaikat maut yang di perintah Allah untuk mencabut nyawanya, jadi secara ajal/batas hidup di dunia, belum seharusnya meninggal.
" saya malah heran kyai, kalau ayah kyai di bilang meninggal, wong belum ada malaikat pencabut nyawa yang datang untuk mengambil ruhnya." kata malaikat pencatat amal.
saat itu saya masih di mobil, dan habis terjebak macet di tol karena arus balik, di tol macet berhenti total, saya nunggu bisa keluar tol, agar keluar dari kemacetan dan lewat jalan pantura.
" lalu ruhnya di mana malaikat kalau di pastikan doter katanya ayah saya sudah meninggal dunia?" tanya saya.
" ruhnya masih ada di badannya kyai, hanya saja jasadnya sudah lemah." jawab malaikat pencatat amal.
lalu saya ambil power untuk di bawa malaikat pencatat amal untuk di berikan ke ayah saya.
lalu malaikat pencatat amal kembali.
kemudian saya mendengar kabar kalau ayah saya sehat kembali, tapi ketika saya sampai ke rumah, saya mendengar kabar lagi bahwa ayah saya meninggal dunia.
saya panggil malaikat pencatat amalnya lagi.
" bagaimana malaikat, katanya sudah pasti bahwa ayah saya meninggal dunia.?" tanya saya.
" sebenarnya belum kyai." jawab malaikat pencatat amal.
" belum bagaimana malaikat, kata kabar, dari kepastian dokter, bahwa ayah saya sudah meninggal."
" tapi ini Allah belum memerintah malaikat maut untuk mengambil."
" Allah menunggu kyai, kyai sudah ikhlas belum kalau ayahanda kyai di ambil?" kata rasulullah yang memang menyertai saya saat itu.
" ya saya ikhlas ya rasulullah, masak saya tdk ikhlas dan ridho kalau memang itu ketentuan Allah, insaAllah saya ridho"
tiba tiba datang malaikat maut, datang, " jika kyai sudah ridho dan ikhlas, saya akan ambil ruh ayahanda kyai, saya di perintah Allah meminta ijin kyai untuk mengambil ruh ayahanda kyai."
" silahkan di ambil malaiakat"
" siap kyai, saya akan ambil ruh ayahanda kyai."
lalu kedua malaikat pamit pergi.
" kyai yang sabar ya kyai."
" saya tak papa kok ya rasulullah, saya ridho dengan apapun ketetapan Allah."
________________________
jasad bapak saya, saya suruh segera di makamkan, karena itu sunnahnya, agar segera bisa melewati fitnah kubur.
ada malaikat yang datang,
" ada apa malaikat?" tanya saya.
" maaf ampun kyai, saya yang di tugaskan menyiksa ayahandanya kyai." kata malaikat.
" ampuun ampuunkan saya kyai, saya tak tau bahwa yang saya siksa itu ayahandanya kyai." kata malaikat ketakutan.
" lalu ada apa malaikat, kalau memang berdosa, wajarlah kalau di siksa."
" ampuun kyai, saya tak tau itu ayahanda kyai, ketika saya pukul, dia memanggil manggil minta tolong menyebut nama kyai, jadi saya tak berani memukul, lalu karena saya takut salah, saya menghadap Allah, ketika saya menghadap Allah, saya di perintah menghadap kyai, meminta keputusan dari kyai, makanya saya menghadap kyai."
" ooo begitu rupanya"
" ya kyai, saya ini atas perintah Allah, di perintah menghadap kyai, apapun keputusan kyai, saya di perintah mengikuti."
" lalu menurutmu bagaimana malaikat? apa ayahanda saya itu bisa di tolong?"
" itu hanya bisa di tolong dengan amal, tapi dosanya amat banyak, dia juga tidak jadi pengikut kyai, jadi menurut saya sulit untuk di tolong."
" saya ini kan anaknya, saya itu tak akan ada kalau tak ada ayah saya."
" ya benar kyai."
" makanya saya akan tolong ayahanda saya, ini bawa pahala amal saya selama ramadhan ini, saya tebus ayahanda saya dengan semua pahala amal saya selama ramadhan"
" apa tidak sayang kyai."
" saya kan masih hidup, masih bisa beramal, itu kan hanya pahala amal saya selama ramadhan, kamu tadi kan sudah di perintah Allah, menuruti apa yang saya perintahkan."
" siap siap kyai, hamba siap laksanakan."
lalu malaikat pergi, menghadap Allah membawa semua pahala saya selama ramdhan.
malam berlalu.
rasulullah tak ada.
saya tertidur ketika dzikir malam.
pagi malaikat yang membawa amal saya datang juga rasulullah.
" bagaimana malaikat.?" tanya saya.
" Alhamdulillah tugas saya sudsh selesai, semalam saya sudah datang menghadap kyai, tapi kyai sedang tidur jadi saya tidak bangunkan." kata malaikat.
" lalu bagaimana tentang bapak saya."
" Alhamdulillah sudah tidak di siksa."
" sekarang di langit berapa?"
" sekarang sudah di langit tertinggi."
" di mana?"
" di firdaus tertinggi."
" Alhamdulillah."
" pahala amaliyah kyai selama ramdhan, sudah lebih lebih, untuk mengangkat derajad kyai."
"ceritanya panjang kyai." kata rasulullah yang ada juga di samping saya.
" kalau boleh tau bagaimana ceritanya ya rasulullah"
" ketika kyai menebus bapak kyai dengan pahala amal selama ramadhan, di langit jadi ramai, semua membicarakan, karena belum ada yang seperti itu selama ini, karena pahala yang kyai berikan itu teramat banyak, tapi itu juga tak salah, karena kyai anaknya, salah satu yang tak putus pahala adalah pahala amal anak sholeh, tapi selama ini belum pernah ada amal pahala sebanyak itu untuk menebus orang di akhirat, maka semua langit jadi rame, semua membicarakan, lalu ayah kyai di sidang, pahala amal kyai di timbang dengan dosa dosa yang ayahanda kyai lakukan selama di dunia, jelas pahala amal kyai walau hanya selama bulan ramadhan itu lebih lebih, makanya kemudian ayahanda kyai bukan hanya terbebas dari siksa, tapi langsung di angkat ke surga firdaus tertinggi, tadi saya di perintah Allah menasehati ayahanda kyai, memberitahu, bahwa dia itu bisa sampai ke surga firdaus tertinggi, karena tebusan dari pahala amalnya kyai, bukan karena dirinya sendiri, itu pun kalau bukan kyai yang meminta, maka Allah tak akan mengabulkan, selama ini belum ada yang seperti itu"
" Alhamdulillah ya rasulullah, semua karena sifat rokhman rokhimnya Allah, saya juga tak akan bisa dan kuat beramal kalau Allah tak mengijinkan beramal."
" lalu ayahanda kyai menangis, mengingat dulu suka sekali meyiksa kyai ketika kyai masih kecil"
" saya juga tak papa ketika kecil suka di siksa, mungkin karena saya di siksa itu, saya dapat pahala sabar."
" kyai tidak ada duanya di dunia ini, membalas kedzoliman dengan kebaikan."
" bagaimanapun beliau tetap ayah saya, takada beliau maka tak akan permah ada saya, beliau menyia nyiakan ssya di masa lalu, jadi sebab saya dapat pahala sabar."
maka saya sudah selesai tugas untuk menolong ayahanda saya sendiri, semoga jadi pelajaran, dan jangan di share.