BERCANDA BERUJUNG KEMATIAN 1
Bercanda itu bisa jadi baik, tapi salah dalam bercanda bisa jadi akan berujung pada kematian. karena ada juga hal hal yang tak bisa di pakai bercanda atau candaan, kadang kala seseorang itu suka bercanda, karena bercanda lupa bahwa sudah melewati batas batas sesuatu yang seharusnya tidak boleh di jadikan bahan candaan.
tapi kadang orang sudah biasa bercanda, kadang apa saja di jadikan candaan asal bisa tertawa.
kisah ini sebenarnya kisah lama, saya juga sudah pernah menulisnya, ini hanya sebagai ingatan saja, bahwa jangan bercanda melampoi batas.
saya pernah kerja di saudi arabia, saya punya teman sebut saja namanya ALI, (nama samaran)
si Ali ini orangnya menyenangkan sebenarnya, suka bercanda, lepas, apa saja di candakan, berteman dengan dia seperti tak ada batasnya lagi, karena selalu tertawa bersama, akrab seperti orang yang kenal sudah lama, saya datang ke saudi akhirnya juga akrab dengannya, saya tak pernah main ke kamarnya ali, tapi ali ini suka main ke kamar saya, kami di area beda mess, cuma kerjaan ali dengan saya di area yang sama, walau jarak 100 meter, cuma ali kerjanya di area terbuka, yang di saudi tentunya panas area terbuka itu, tidak di bawah terik matahari, tapi di area yang tidak pakai ac, karena ali tukang kayu yang banyak mesin mesin alat berat pasah mesin besar, dan gergaji besar pemotong dan penyerut kayu, jadi dia pasti di samping kepanasan karena hawa panas saudi angin nya angin panas.
sedang saya kerja dalam ruangan tertutup, ada acnya, jadi tiap hari dalam ruangan dingin, tapi ali di samping gaji dasar itu lebih besar dari saya, juga dia sudah lama di saudi, mungkin 10 tahunan, sedang setiap tahun ada kenaikan gaji, sedang saya baru datang, jadi gaji rendah, kalau gaji saya di banding ali, ya gaji selisih 10x lipat. belum lagi ali tiap hari ada lemburan, sedang saya tidak, malah akan berkali kali lipat lagi dari gaji saya.
seharusnya ali bersyukur karena gajinya lebih tinggi dari saya, bahkan puluhan kali lipat dari gaji saya.
suatu kali, ali datang ke tempat saya, biasa tiap hari kalau mau pulang kerja, dia selalu datang ke tempat kerja saya, di samping ngadem sebentar dia juga suka ngobrol ngalor ngidul bercanda dengan saya, saya juga bgt sering datang ke tempat kerja dia, walau panas, sehingga dengan semua teman kerjanya yang saya kenal semua.
saat itu saya besoknya mau cuti pulang ke indonesia, karena sudah setahun di saudi, saya kebetulan dapat cuti, ali datang ke ruangan kerja saya, dia datang dengan pakaian basah keringat, karena memang dia kerja di area terbuka, jadi walau tak kerja juga tetap akan keringetan.
" besok mau cuti ya...?" tanyanya basa basi.
" ya, mau nitip apa?" tanya saya balik.
" gak ah, tapi nanti balik ke sini kan?"
" ya balik lah..."
" soale saya dengar gak balik..."
" ah itu hoax."
dia tertawa
" ya rugi kalau gak balik, soale kamu enak, kerja sudah enak kalau gak balik, ya rugi.."
" kalau enak tak enak, orang itu sawang sinawang, kalau menurut saya ya enakan kamu, kamu gajinya 10x lipat dari saya, lemburan tiap hari lagi... "
" menurutku ya enakan kamu, kamu kerjanya di tempat ber ac."
" laiya kita itu sawang sinawang, yang lain merasa lebih enak, dari dirinya sendiri, ya kalau menurut saya sebaiknya di syukuri saja."
" tetap menurutku enakan kamu." dia ngotot.
" kalau enakan saya, misal, kita di ganti tempat kerja, apa kamu mau? saya yang gajinya 10rb, real, kamu yang 1 ribu real, mau?"
" yo soglak temen, (maksudnya gak mau) enakan kamu, dapat gaji lebih besar."
" makanya di syukuri, kamu tak mau kan dapat gaji sekecil saya, saya saja gak papa, gak mengeluh, dapat gaji kecil."
" tapi menuruku enakan kamu, tetap, sudah kerjanya hanya duduk, dapat gaji, "
" tadi di ajak gantian gak mau, malah sekarang masih ngotot enakan saya."
" semua itu sudah takdir, gaji kita masing masing, "
" la kalau km mau, gajimu di ganti gaji saya."
" ya gak bisa, itu sudah takdir Allah."
" ya kalau Allah mau, bisa saja pendapatanmu di pindah dari pendapatan saya, malah saya lebih besar, itu kan bisa saja terjadi."
" ya kalau sudah takdir gak bisa lah di rubah."
" yang merubah kan Allah, ya bisa saja lah, kalau Allah tak bisa merubah ketentuannya, Allah berhenti jadi tuhan."
" tak bisa, takdir itu tidak bisa di rubah, saya ngaji dari dulu, takdir itu tida bisa di rubah, "
" takdir itu tak bisa di rubah kan olehmu, kalau yang merubah Allah, ya terserah Allah, haknya Allah merubah, Allah ala kulli syai'ing qodir"
" yo gak bisa takdir di rubah rubah nanti Allah tak konsisten."
" Allah itu bebas lah, kok kamu ngatur ngatur Allah, Allah itu maha segala galanya, mau merubah, mau apa, tidak ada yang bisa mengatur dan mendikte Allah, Allah kok di atur atur,"
" ya tetap takdir itu tidak bisa di rubah rubah..."
waktu sudah lewat jam istirahat.
" sudah gini saja, kita ini kalau debat, ya tak ada yang mau kalah, sama sama merasa benar sendiri, gini saja, untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah, bagaimana kalau yang salah bulan depan mati, sudah gitu saja, ini sudah jam istirahat mau habis, "
lalu dia saya ajak salaman.
" takdir kok bisa di rubah, ... " dia masih ngedumel.
" sudah, gak ada manfaatnya berdebat, km akan merasa benar, saya juga merasa benar, agar adil biar Allah yang memberi keputusan, yang benar siapa, yang salah siapa, karena akan terus merasa paling benar, biar nanti yang bulan depan mati, dialah yang salah."
lalu kami bubar pulang ke mess kamar masing masing.
malam malam biasa waktu kalau mau pulang cuti, semua teman sesama indonesia akan saling mengunjungi, berkunjung ke kamar yang mau cuti, karena banyak orang, jadi tamu bergantian.
sampai malam jam 12 lebih masih ada tamu, semua tamu sudah pulang, sudah mendekati subuh, Ali datang, masih berpakaian kerja, karena dia lembur di atas jam 12 malam.
" tak sempat sempatkan datang, karena takutnya tak ketemu lagi." katanya.
saya keingat dengan sumpah saya dengan dia waktu di tempat kerja.
" ooo nyangka saya kalau saya akan mati?" tanya saya .
" enggak, siapa tau situ gak balik lagi ke sini."
" saya masih balik lah, ini pasti ingat sumpah kita tadi, dan nyangka ssya akan mati ya?" kataku masih memancing mancing, dan membuat dia serba kikuk.
" nanti di lihat sajalah bagaimana bulan depan..." tambahku.
dia yakin dia tak akan mati karena gak pergi kemana mana, sedang saya mau naik pesawat, bisa saja kan pesawat kecelakaan jatuh, kalau pesawat jatuh juga mau gandolan apa, kalau mobil berhenti kan masih napak tanah, kalau pesawat kan di udara, kesempatan jatuh lebih banyak 100 persen.
" ah jangan ngomong gitu, kan mau naik pesawat." katanya
" ya siapa tau, kita tak ketemu lagi, jadi ssya minta maaf." tambahnya.
" ya sama sama, maafkan juga saya, saya bercanda juga kadang kelewatan." jawab saya dan kami bersalaman, dan dia waktu mau keluar masih balik lagi. dan minta salaman lagi, kayaknya sudah ada firasat tak akan ketemu saya langi.